November 2017
S M T W T F S
« Dec    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
Ilkom
IPB Badge
Hapuskan komersialisasi perparkiran kampus IPB Baranangsiang

Tulisan ini dibuat oleh Hamdan Juhannis, Guru Besar Ilmu Sosiologi UIN Alaudin, Mataram; Anggota Dewan Indonesian Public Integrity Education Network. Sengaja saya muat disini karena sangat menarik, dapat menjadi renungan kita semua, baik mahasiswa maupun dosen. Berikut selengkapnya …

Pada waktu ujian semester Mata Kuliah Sosiologi di sebuah kelas S1 UIN Alaudin beberapa hari lalu, saya datang memberi ujian sendiri. Ketua kelas meminta para mahasiswa mengatur kursinya secara berjarak. Namun saya memotongnya bahwa mereka tidak perlu melakukan itu. Saya mengatakan, “Kalian duduk seperti biasanya.” Saya bercanda: “Kalau mau lebih mepet lagi, silakan Anda lakukan,” yang disambut tawa oleh para mahasiswa.

Sebelum saya membagikan soal ujian, saya memberi sebuah pengantar yang bunyinya seperti ini: “Hari ini, saya ingin sejarah di ruangan ini tercipta, yaitu ujian tanpa ada perilaku menyontek. Menyontek adalah perilaku dalam dunia pendidikan yang berkontribusi terhadap munculnya orang terdidik yang tidak memiliki integritas. Orang yang tidak punya integritas itulah yang menggerogoti sendi kehidupan, khususnya perilaku korupsi dan kebohongan publik yang akarnya dari kebiasaan menyontek. Apakah Anda sadar bahwa lembaga pendidikan tinggi yang menjadi muara pendidikan, melahirkan penyelenggara negara yang korup. Buktinya, mereka yang menjadi koruptor semua mempunyai gelar akademik.”

Lalu saya melanjutkan : “Apakah Anda ingin sejarah tercipta bahwa hari ini menjadi upaya awal Anda membangun tradisi hidup bersih yang dimulai di ruangan ini dengan mengikuti ujian tanpa perilaku menyontek? Olehnya saya membiarkan Anda duduk berdempetan, karena saya ingin melihat bahwa cerita tentang anak didik di negara-negara dengan pemerintahan bersih yang memang tidak mempunyai tradisi meyontek dalam ujian, juga sebenarnya bisa dipraktikkan dalam hidup kita. Peluang bahwa sejarah akan Anda lahirkan sendiri, sama persis peluangnya Anda akan menguburnya begitu dalam dan saat ini momentum untuk membuktikannya.”

“Saya hanya akan mengamati Anda sejak menancapkan pulpen untuk mejawab pertanyaan sampai Anda kumpulkan kertas jawaban Anda. Karena nilai kesejarahannya jauh lebih bermakna daripada menegur Anda menyontek atau membuka buku, lalu memberi angka rata-rata maksimal karena pekerjaan Anda baik. Saya lebih tertarik untuk menulisnya di buku harian saya atau di tulisan-tulisan saya, atau membicarakan di ceramah saya bahwa ada bukti generasi kita punya potensi untuk mengurus negara ini tanpa perilaku kebohongan. : Saya menutupnya dengan menyatakan: “Semua terserah Anda dan selamat menjawab soal ujian.”

Lalu kertas ujian dibagi oleh ketua kelas, dan ujian berlangsung selama dua jam. Setelah ujian selesai dan mereka mengumpulkannya, saya memberi komentar lagi: “Terima kasih Anda melakukan ujian yang sangat luar biasa. Kalau saya ingin memberi persentase, tentu tidak sampai 100 persen bersih karena tadi satu kali saya melihat seorang mahasiswa melihat pekerjaan temannya. Tapi sejujurnya, inilah ujian terbersih yang pernah saya lihat di negeri ini di mana para mahasiswanya duduk berdempetan, nyaris tanpa perilaku menyontek sama sekali.” Lalu saya bertanya kepada mereka: “Pernahkan Anda melakukan ujian duduk secara berdempetan? Mereka menjawab : “Pernah.” Saya bertanya apa yang terjadi dan mereka menjawab hampir semua menyontek. Lalu saya meminta mengangkat tangan bagi siapa di ruangan ini yang tidak pernah menyontek dan tidak ada sautupun yang mengangkat tangannya.

Saya lalu menyatakan bahwa saya yakin tidak akan ada yang berani mengangkat tangannya, termasuk saya sendiri karena pada dasarnya kita dibesarkan dengan tradisi kebohongan yang salah satu variannya adalah menyontek. Dunia pendidikan kita mengambil bagian kebohongan itu dengan memelihara tradisi menyontek. Luaran lembaga pendidikan dengan tradisi menyontek itulah yang mempraktikkan varian kebohongan lain yang disebut korupsi ketika mereka menjadi penyelenggara negara.

Saya menambahkan : “Anda tahu dunia pendidikan kita menolerir praktik-praktik kebohongan dengan berbagai modus untuk mengangkat citra pendidikan dengan angka atau catatan hitam di atas putih. Lalu pendidikan kita mengabaikan sisi fundamental dari makna pendidikan itu sendiri yang lebih dari angka yaitu mengasah nilai kemanusiaan, yaitu integritas publik. Apa artinya tingkat kelulusan tinggi bila itu ternyata menyuburkan bibit kebohongan.

Makna semua ini bahwa dunia pendidikan kita bertanggung jawab terhadap persoalan kebangsaan kita dengan menjamurnya praktik korupsi atau dengan bahasa yang lebih lugas dunia pendidikan kita menjadi supplier koruptor.”

Saya menutup pertemuan ujian semester itu dengan menyatakan : “Apa yang baru saja Anda lakukan adalah contoh upaya kita untuk memutar balik jarum jam tradisi kebohongan yang sudah mengkristal dalam tradisi hidup kita yang dilakukan di sebuah ruangan perguruan tinggi. Saya tentu tidak menjamin bahwa apakah Anda melakukan ujian secara bersih karena semata termakan secara sementara oleh doktrin saya, tapi mudah-mudahan Anda melakukannya karena diawali oleh rasa prihatin betapa komentar-komentar saya mengena pada dunia pendidikan kita termasuk pada diri Anda semua.

Bila itu terjadi, Anda sebenarnya melakukan upaya kerja laksana Anda memutar balik jarum jam kebohongan yang begitu kencangnya berputar di sekitar Anda.”

“Inilah esensi pelajaran Sosiologi yang Anda pelajari satu semester, sebuah ilmu kemasyarakatan mencermati problema sosial termasuk perilaku kebohongan publik, Anda perlu dibekali ilmu itu bukan hanya sebatas memiliki wawasan, tetapi bagaimana wawasan sosiologis itu berproses menjadi bagian tak terpisahkan dari nurani Anda ketika berbuat, terkhusus ketika Anda suatu saat menjadi penyelenggara negara. Ini harus selalu diasah dan yang baru saja Anda lakukan dengan ujian tanpa menyontek adalah sebuah momentum asahan.”

Saya menyatakan kalimat kunci : “Sebagai mahasiswa Anda berkontribusi saja terhadap upaya menghilangkan tradisi menyontek di kampus, saya anggap sudah lebih dari cukup dan itu patut diapresiasi.” Seorang mahasiswa bertanya: “Apa bonusnya pak” dan semua mahasiswa tertawa keras. “Saya tidak akan memberi Anda bonus atas perilaku kebersihan ujian Anda dengan memberi angka bagus, karena itu pemberian terima kasih yang bisa saja tidak layak. Itu bentuk lain dari kebohongan yang disebut dengan gratifikasi.” Jawab saya yang disambut tawa lebih keras lagi oleh mahasiswa sambil mengangguk-angguk.

Saya menyatakan bahwa bonus mereka adalah kepuasan batin-spiritualistik yang tak ternilai, melebihi kepuasan angka-angka yang berbau lahir-materialistik semata, yang menjadi ciri kepuasan bagi para koruptor dan pembohong. (*)

 

2 Responses to “Memutar Balik Jarum Jam Tradisi Bohong (Oleh: Hamdan Juhannis)”

  • Muhammad Ardah says:

    Saya sangat setuju tulisan pak Hamdan. yang kami tahu bahwa adik prof.. ini dari kecil memang tumbuh dari lingkungan keluarga yg sangat mengutamakan dan menjunjung nilai-nilai kejujuran..masih teringat pesan puang nenek ( nenek saya juga nenek Prof Hamdan ) bahwa suatu hari nanti kalisn dalam mencari rezeki tidak hanya uang yg dicari..tapi juga kejujuran.
    salam untuk beliau..Nurmiliani Samarinda, kaltim

  • Ajik says:

    Iya pak,, Saya sangat setuju

    pendidikan itu sebenanya bukan terbatas pada ilmu pengetahuan, tapi pendidikan kepribadian dan mental harus sangat diperhatikan. .

Leave a Reply