June 2017
S M T W T F S
« Dec    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
Ilkom
IPB Badge
Hapuskan komersialisasi perparkiran kampus IPB Baranangsiang

Hobi minum dan menikmati kopi banyak membawa langkah ke arah yang kadang tidak terduga. Mendengar ada coffee corner di Kampus IPB Darmaga, secara langsung muncul hasrat untuk mencoba berkunjung, dan ternyata cukup nyaman dan nikmat walaupun tempatnya sederhana dan udaranya membuat tubuh berkeringat. Beda dengan tempat lain di kota yang sejuk oleh hawa pendingin udara. Tak apalah. Yang penting, setelah pagi memberi kuliah dan belum sempat sarapan, tubuh sudah bisa hangat karena menyeruput kopi yang didahului oleh santapan nasi pecel atau makanan kelas berat lainnya.

Namun ada kesempatan yang sangat berharga pada saat menikmati kopi sambil sarapan, yakni bertemu, bercanda, dan bahkan juga diskusi dengan rekan serta kolega. Di suatu waktu, pembicaraan mengarah pada keinginan saya pribadi untuk mengembangkan sistem otomasi komunikasi mahasiswa dengan dosen di bidang akademik. Entah mengapa dan bagaimana, selang beberapa minggu kemudian saya mendapat SK dari salah seorang Ketua Departemen di IPB, yang selama ini memang sudah sangat saya kenal, untuk menjadi narasumber pengembangan website. Terus terang saya sangat jarang mendapat kepercayaan seperti ini, sehingga kesempatan ini saya pergunakan dengan baik dan penuh tanggung jawab. Untungnya, dalam tim pengembangan website, berisi orang-orang yang penuh semangat, berdedikasi, tanpa pamrih, dan yang terpenting saya di-orang-kan disini dibanding di lingkungan sendiri. Kerjasama terjalin dengan sangat kondusif sehingga cita-cita pembentukan website departemen dapat terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama, dan hasilnya sangat baik jika dilihat dari ukuran kinerja website yang sudah pernah ada.

Aktivitas saya dalam turut menyumbang ide pengembangan website inilah yang mungkin menyolek saya untuk juga mulai mengembangkan SIM Akademik di departemen tersebut. Pengalaman dan perjalanan di masa lalu dalam pengembangan IT di IPB mempermudah saya untuk mengimplementasikan SIM Akademik. Jadilah sistem yang sudah mulai diterapkan walaupun secara bertahap terus mengalami penyempurnaan dan penambahan fasilitas. Terakhir adalah pengembangan SMS by Request untuk mendapatkan berbagai informasi akademik bagi dosen dan mahasiswa.

Pekerjaan pengembangan secara bersama dalam tim membuat segala sesuatu dapat dilalui dengan baik dan lancar. Dan semua itu makin semangat saat dalam diskusi SIM ini disertai dengan sarapan nasi uduk dan minum kopi. Nasi uduk ini sangat nikmat, mungkin karena disuguhkan dengan penuh ikhlas dan sayapun berdiskusi dan makan dengan tulus. Hasrat nakal mulai muncul, “Anda tiap Senin setelah memberi kuliah dan rasa lapar melanda, lalu ada nasi uduk seperti ini … hmm …”.

Rupanya hasrat nakal tersebut mendapat sambutan dengan adanya email yang mengundang diskusi sambil sarapan nasi uduk di Senin berikutnya. Setelah memberi kuliah, dengan semangat 45 dan air liur berkali-kali tertelan, saya tuju tempat itu …. Oh ternyata ada kesalahan hasrat. Nasi uduk itu tidak ada, dan memang diskusi itupun juga tidak ada. Sejak itulah, nasi uduk menjadi trend topic dalam email-email diskusi masalah SIM. Namun demikian, walaupun sudah tercatat sebanyak 26 thread email yang mengandung kata nasi uduk, tetapi nasi uduk itu sampai kini belum terealisasi juga … hiks …. :(

Oke, nasi uduk memang sesuatu (meniru ungkapan Syahrini). Dalam perjalanan penerapan SIM ini, mulai timbul gejolak, dan itu sudah biasa. Saya pun juga mendapat semangat dari tim untuk terus bersemangat dan maju terus dalam pengembangan SIM ini. Walaupun demikian, semangat ini kadang jatuh bagai tetes air hujan dari dedaunan menyentuh tanah yang kering, hilang tak bersisa. Hal ini manakala segala keluhan datang ke saya secara langsung. Tidak efisienlah. Over adoption-lah. Merepotkan. Kurang bermanfaat …. dsb. Pertanyaan muncul, mengapa ke saya segala keluhan itu? Mengapa tidak secara langsung dibicarakan di lingkungan yang lebih dalam sehingga dapat dicari jalan keluarnya? Entahlah, yang penting sekarang, masih adakah itu nasi uduk? Jadi ingat potongan lirik lagu nakal campursari Nasi Uduk yang diadopsi dari lagu Cucakrowo ….

Nasi uduk mas, ikannya tongkol
Sambil duduk mas, pegangan botol
Botole ireng, koyo kentongan
Nasi uduk mas, si janda kembang

Bogor, 14 September 2012

One Response to “SIM, KOPI, dan NASI UDUK”

  • He-he, memang ironis. Yang enggan menggunakan SIM adalah yang memimpin penyusunan cyber exstension di kementerian, juga yang sampai semester lalu paling aktif menggerakkan mail list. Kini alasan keduanya tidak ada waktu untuk mengklik SIM. Karena pasti bukan alasan sebenarnya, maka mengikuti anjuran manjur Jokowi, kita semestinya menjemput bola dengan mengajak berkomunikasi dahulu.

Leave a Reply