November 2017
S M T W T F S
« Dec    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
Ilkom
IPB Badge
Hapuskan komersialisasi perparkiran kampus IPB Baranangsiang

Beberapa waktu terakhir, ber-Internet di kampus terasa sangat lambat dan membuat emosi meningkat. Bahkan pada hari-hari tertentu terjadi krisis jaringan atau sama sekali mati sehingga kembali menumbuhkan labil emosi …. 😉 Pada saat para “Netters” galau tingkat tinggi, muncul sinyalemen bahwa hal ini akibat dua hal. Pertama adalah belum adanya Disaster Recovery Center, dan kedua adalah ketidaksabaran unit kerja yang mengembangkan sistem informasi sendiri. Saya berdoa semoga sinyalemen itu tidak benar ada, dan hanya merupakan rumor semata. Jaka Sembung nanem nanas …. gak nyambung masss …. 😉

Saya, salah satu Netters di kampus ini, mencoba menduga, apa yang sebenarnya terjadi, yang menurut saya, ini ibarat suatu penyakit. Jaringan di kampus ini bak penyakit Thypus, DB, atau sejenis, yang tidak bisa didiagnosa dari gejala yang timbul. Perlu analisa laboratorium untuk meyakinkan letak penyebab penyakit tersebut, dan menemukan obat yang pas. Dalam lingkungan jaringan, diperlukan analisis traffic dan juga mempelajari perilaku keseharian yang dapat ditelusuri dari log yang ada di setiap alat. Sayang sekali saya tidak bisa melihat itu semua, sehingga yang muncul hanya dugaan sementara. Mirip dokter 24 jam ingin menduga ini penyakit Thypus, DB, atau sejenis tanpa adanya hasil laboratorium.

Dugaan pertama adalah kinerja dari mesin proxy. Seperti diketahui bahwa semua akses Internet di kampus ini (kecuali beberapa mesin), dikendalikan oleh dua mesin proxy. Oleh karena itu, hampir semua akses Internet baru dapat terlaksana jika berhasil ditangani oleh mesin tersebut. Saya dapat mengibaratkan hal ini sebagai pintu tol. Walaupun jalan tol di depan sudah kita pesan selebar mungkin, kalau di pintu tersebut yang bertugas adalah kakek-kakek yang sudah uzur, maaf, dapat dipastikan mobil yang bisa dilewati untuk melaju di jalan tol Internet yang sudah dipesan dengan milayaran rupiah per tahun, akan sangat terbatas. Secanggih apapun mobilnya, dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk melaju di jalan tol Internet tadi. Belum lagi petugas pintu tol sering tidak masuk karena sakit. Oleh karena itu, hal ini dapat ditangani dengan dua cara sederhana, yaitu menambah mesin proxy, dan meningkatkan spesifikasi mesin proxy tersebut.

Dugaan kedua, dan ini yang pemnting, adalah terkait dengan pengelolaan alamat IP. Seperti diketahui bahwa setiap mesin dari para Netters akan memiliki alamat IP untuk dapat bergabung dengan jaringan kampus dan dapat melakukan koneksi Internet. Hal ini bisa saya ibaratkan sebagai jaringan persuratan yang melibatkan Kantor Pos, untuk melayangkan surat ke alamat tertentu. Mudah dipahami bahwa setiap rumah dipastikan memiliki alamat yang unik, yang tidak akan sama antara yang satu dengan yang lain. Jadi dapat dibayangkan seandainya ada dua atau lebih rumah memiliki alamat yang sama, misalnya Jalan Emprit No.2, kemudian ada surat menuju alamat tersebut, Pak Pos pasti bingung kemana surat akan di antar, dan ini pasti akan memperlambat proses pengantaran surat. Hal yang sama jika ada permintaan tertentu masuk ke Kantor Polisi akibat ada kejadian tertentu di alamat tersebut, Pak Polisi juga pasti akan bingung, ini permintaan yang mana? Dan semua itu menjadikan proses melambat, dan bahkan tidak jarang dihentikan.

Bagaimana dengan alamat IP? Alamat ini secara umum dapat ditentukan dengan dua mekanisme, yaitu otomatis atau manual. Agar tidak menyulitkan user, maka umumnya dibuat pengalamatan otomatis, yang dalam istilah teknis disebut dengan DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol). Artinya ada mesin tertentu yang mengontrol dan memberikan alamat IP pada komputer yang tersambung ke jaringan. Tentunya mekanisme ini dilakukan dengan baik sehingga tidak akan terjadi alamat yang sama. Beda dengan mekanisme manual, dimana pemberian alamat dilakukan secara manual, dan umumnya dibuat pada mesin-mesin tertentu tadi. Perlu diketahui bahwa semua mesin yang terlibat pada jaringan ini memiliki alamat IP. Radio hotspot yang kita pasang, juga memiliki alamat IP, dan ini umumnya dibuat dengan mekanisme manual tadi. Disinilah letak persoalannya, ada yang manual dan ada yang otomatis. Jika tidak diatur, tidak dikelola dengan baik, maka dapat terjadi pengalamatan IP yang sama, yang dalam istilah teknis disebut IP conflict. Bayangkan saja, misalnya mesin proxy beralamat di 127.127.127.9 (misalnya), dimana semua akses Internet harus melewati mesin tersebut, yang sebelumnya kita bayangkan itu seperti pintu tol. Tiba-tiba ada mesin lain, yang bisa diibaratkan hanya warung Indomie, memiliki alamat yang sama, yaitu 127.127.127.9. Semua akses Internet di kampus ini (ibaratkan saja mobil yang akan masuk tol), semua mengantri di depan warung Indomie tersebut karena alamatnya sama. Koq tidak ada yang jalan? Jelas saja, itu hanyalah warung Indomie, dan tidak ada jalan tol di situ. Akhirnya, karena ada batasan tertentu permintaan akses Internet, maka di layar tertulis pesan error, yang intinya alamat Internet dimaksud tidak ditemukan. Namun demikian, ada saja yang dapat akses Internet karena kebetulan mesin yang dituju adalah benar adanya. Mengapa kalau pagi kenceng, kalau siang luambaaat? Bisa jadi, mesin yang beralamat IP sama tadi, masih dalam keadaan mati sebelum para dosen, pegawai, mahasiswa, dsb datang di kampus menghidupkan mesin tersebut. Setelah datang, komputer dinyalakan, eng ing eeenggg ….. mulai lambat. Hal ini juga bisa digunakan sebagai modus untuk mendeteksi dimana mesin komputer yang bermasalah tadi.

Sekarang kita lihat bagaimana kontrol terhadap pengalamatan manual ini? Menurut pengamatan saya, tidak ada kontrol. Semua teknisi bebas saja memberi alamat pada mesinnya. Sebagai contoh, ada unit kerja memasang hotspot, langsung membuat alamat IP manual di mesin tersebut. Walaupun sudah berkomuniasi dengan yang berwenang, namun apakah ada catatan semua alamat IP manual yang ada di seluruh area kampus ini? Saya meragukan hal itu. Jadi saran saya, harus dilakukan inventarisasi menyeluruh supaya semua dapat nyaman menggunakan jaringan yang sudah dibayar dengan uang yang tidak sedikit ini. Dibutuhkan aturan main yang jelas dan dipatuhi oleh semua pihak terhadap mekanisme yang sudah ditetapkan. Juga dibutuhkan penanggungjawab di setiap area, sehingga kontrol dapat diminimalisir di area tertentu tanpa mengganggu Netters secara keseluruhan.

Sudah panjang rasanya tulisan ini, padahal masih banyak yang ingin saya ungkapkan. Lebih baik dihentikan saja. Dan kebetulan ada lagu enak sedang diputar di radio kesayangan ini, “Kini”-nya Marcell Siahaan, yang harus dinikmati dengan tenang dan khusuk …. ; Nanti dilanjut lagi pada tulisan seri selanjutnya.

Leave a Reply