February 2017
S M T W T F S
« Dec    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  
Ilkom
IPB Badge
Hapuskan komersialisasi perparkiran kampus IPB Baranangsiang

Belajar pemrograman komputer itu bisa dibilang susah-susah gampang, tapi saya lebih cenderung mengatakan gampang-gampang susah. Artinya masih lebih banyak gampangnya dibanding kata susah hehehee ….. Percayalah, jika dilakukan dengan konsisten dan fokus, maka tidak ada yang tidak bisa dilakukan. Yang sering menjadi persoalan adalah, darimana memulai belajar pemrograman komputer.
Saat menjadi mahasiswa Jurusan Statistika IPB tahun 80-an dulu, saya mendapat mata kuliah Pengantar Ilmu Komputer selama satu semester, yang isinya sebenarnya adalah belajar menulis program. Apa yang dilakukan oleh dosen saat pertemuan pertama waktu itu? Beliau membawa kertas print-out komputer (main frame) yang di dalamnya tertulis beberapa baris program komputer, yang ternyata merupakan program komputer berbahasa Fortran. Dosen di kelas langsung menunjukkan bahwa itulah yang namanya program komputer, dan beliau menjelaskan apa makna dari program tersebut, yang rupanya adalah program untuk menghitung faktor persekutuan terbesar (FPB) dari dua bilangan bulat dengan metode Euclid.

Saya baru memahami mengapa dosen memilih topik tersebut dalam pertemuan pertama. Karena beliau ingin menunjukkan kelebihan dari komputer yang dapat melakukan perhitungan berulang-ulang tanpa merasa lelah dan konsisten (proses looping). Dan komputer tidak dapat melakukan apa-apa tanpa kita memberikan instruksi yang benar, yang selanjutnya disebut sebagai algoritme. Dari sinilah beliau selanjutnya menyampaikan bahasan tentang algoritme dan pemrograman, sambil masuk ke dalam topik sintaks pemrograman bahasa Fortran.

Pada perkembangan selanjutnya, di dalam program studi Ilmu Komputer IPB, yang kemudian menjadi Departemen Ilmu Komputer, mata kuliah tersebut menjelma menjadi Algoritme dan Pemrograman, dimana bahasa yang digunakan pada awalnya adalah Pascal kemudian berubah menjadi C karena alasan tertentu. Sebenarnya masalah bahasa yang digunakan tidaklah sangat penting, karena inti dari mata kuliah tersebut adalah pembelajaran pembuatan program sederhana dengan menggunakan komputer. Dan tentunya agar dapat menulis program komputer yang digunakan untuk memecahkan suatu persoalan, mahasiswa harus memahami algoritme, karena sebenarnya program komputer merupakan implementasi dari algoritme yang disusun. Dari sini mahasiswa dituntut untuk banyak berlatih menulis program dengan menggunakan algoritme tertentu untuk memecahkan masalah.

Saya sering membuat ilustrasi, belajar pemrograman itu seperti orang belajar main gitar. Pertama tentu harus tahu tangga nada dalam musik, dan kemudian bentuk chord gitarnya seperti apa. Berhenti sampai disini? Tentu tidak. Supaya otak kita lebih memahami terhadap nada dan chord tersebut serta tangan ini terampil memainkan gitar, maka nada tersebut harus dimainkan dengan menggunakan gitar. Artinya, belajar program komputer, tidak bisa hanya belajar algoritme saja tanpa bisa membayangkan bagaimana bentuk program komputernya. Itulah mengapa, belajar program komputer selalu dibarengi dengan instruksi algoritme yang mendahuluinya. Sangat membuang waktu, kita hanya belajar proses “while” itu seperti apa, proses “for” itu seperti apa, tanpa mencoba di komputer dengan menggunakan bahasa pemrograman tertentu. Sama halnya dengan belajar main gitar, tetapi tidak pernah memainkan gitar, sehingga telinga dan otak tidak dilatih untuk membedakan bagaimana bunyi nada C, A minor, dan sebagainya. Oleh karena itu, bagaimana nanti bisa memainkan sebuah lagu?

Itulah sebabnya, sampai saat ini, saya belum bisa mengerti, mata kuliah Algoritme dan Pemrograman yang berisi algoritme sederhana sekaligus implementasinya menggunakan bahasa pemrograman, dipecah menjadi dua, yaitu (1) Algoritme, dan (2) Dasar Pemrograman. Dalam (1), mahasiswa hanya corat-coret di kertas belajar proses read, write, looping, conditional, dan sebagainya tanpa menuliskan program komputer untuk memecahkan masalah. Selanjutnya dalam (2) di semester selanjutnya, baru menulis program komputer. Yah, tentunya, dalam (2), dosen pasti menjelaskan dahulu bagaimana suatu proses read, write, looping, conditional, dan sebaginya sebelum menuliskan program komputernya. Jadi, buat apa dipisah? Ini yang bodoh siapa sih? Saya atau akuuuh?

Leave a Reply