September 2017
S M T W T F S
« Dec    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
Ilkom
IPB Badge
Hapuskan komersialisasi perparkiran kampus IPB Baranangsiang

kopiMungkin saya ini sudah masuk pada tahap pecandu kopi. Sehari rata-rata meminum 2 cangkir kopi. Kalau orang lain sulit tidur jika minum kopi, saya malah minum kopi sebelum tidur. Aneh memang.

Saya amati ada banyak kategori kopi yang sudah pernah saya rasakan, mulai dari kopi yang diracik dengan sangat rumit oleh ahlinya, sampai kopi instant yang tinggal menyeduh dengan air panas. Tentunya, setiap jenis sajian kopi ini memiliki rasa yang berbeda. Kopi racikan baresta memang sangat mantap, mulai dari aroma, rasa, hingga seni penyajiannya. Kita pun bisa menentukan komposisi dan jenis dari setiap aroma, rasa, dan penyajiannya.

Berbeda dengan kopi yang dibuat sendiri, yang lebih mudah karena hanya menyiapkan kopi, gula, krim, dan sebagainya. Namun kita masih bisa mengatur komposisi setiap racikan tersebut, dan juga jenis kopi yang akan diminum. Yang paling mudah tentunya kopi instant, dimana kita hanya menyiapkan air panas mendidih dan sebungkus kopi instant. Yah mudah membuat, tetapi kita sulit dan bahkan tidak mungkin lagi mengatur komposisi sesuai yang dibutuhkan. Walaupun sudah tersedia berbagai jenis dan komposisi, tetap saja ada kebutuhan lain yang tidak dapat dipenuhi oleh kopi instant.

Dari 3 kategori penyajian kopi tadi, saya mengamati, dan bisa jadi memang demikian, seorang yang belajar menjadi baresta sudah tentu dapat membuat kopi tanpa alat yang rumit, apalagi membuat sajian kopi instant. Juga, orang yang sudah paham bagaimana membuat sajian kopi tubruk sendiri, akan sangat mudah membuat sajian kopi instant. Sebaliknya, orang yang diberi pengetahuan tentang membuat sajian kopi instant, akan kerepotan membuat kopi tubruk dengan rasa dan aroma yang memadai, apalagi membuat sajian kopi ala baresta.

Nah, kalau melihat seperti ini, mana yang mau dipilih? Mau mengajari orang dapat membuat sajian kopi ala baresta, atau kopi tubruk, atau cukup kopi instant? Tentunya memang tergantung kemampuan apa yang akan diberikan terhadap orang tersebut. Sama halnya di bidang pemrograman komputer, mau memberi materi bahasa pemrograman yang banyak memiliki library instant, atau yang njlimet ala bahasa assembly? Yah sekali lagi, tergantung pada kemampuan apa yang akan diberikan terhadap mahasiswa. Jika pendidikan level sebelumnya (SD, SMP, SMA) sudah mulai memberikan pemahaman dasar pemrograman komputer (informatika) secara baik, mungkin pilihannya menjadi lebih mudah dan leluasa. Tapi …. yah sudah lah, memang susah didiskusikan lagi …. 😉

Leave a Reply